Featured Post Today
print this page
Latest Post

Dongeng Senja Bersama Najma



Buku kecil ini, awalnya saya persembahkan sebagai hadiah ulang tahun Najma yang pertama. Tetapi, jika tak ada aral, menulis tentang kehidupan orang-orang di sekitar, terutama anak istri, akan saya coba teruskan. Terima kasih yang tak terhingga saya sampaikan kepada keluarga besar saya: Ayah, Ibu, Kakak, Adik tercinta. Teman-teman yang pernah membaca postingan tulisan-tulisan di media sosial dan kemudian memberikan respon saya juga ingin mengucapkan terima kasih. Juga kepada Salam yang telah menata tulisan-tulisan ini dengan baik. Dan akhirnya, selamat membaca karya sederhana ini. Download disini
0 komentar

Kabar Tersiar 2: Kalam Hikmat Para Sahabat

Buku ini merupakan catatan-catatan keseharian saya yang kedua. Ini adalah cerita yang dipublikasikan melalui media facebook. Mungkin lebih tepat jika catatan ini dimaknai sebagai kumpulan refleksi, bukan tulisan akademis. Didalamnya menggambarkan kampung halamannya, keluarganya, hingga inspirasi dari sahabat-sahabat yang dikasihinya. Bisa diunduh secara cuma-cuma. Download disini
0 komentar

Masyarakat Tionghoa di Cilimus: Kisah Peter Liang Tek Sun

Peter Liang Tek Sun (selanjutnya ditulis Peter) adalah seorang Tionghoa yang lahir di Cilimus, Kuningan Jawa Barat pada 2 Oktober 1919. Ia menulis disertasi berjudul “A Life Under Three Flags: 1919-1975,” sebagai tugas akhirnya di University of Western Sidney, Australia. Studinya di Jurusan Sejarah diselesaikan pada Maret 2008. Itu artinya Peter berusia 89 tahun ketika ia mengakhiri studi doktoralnya. Peter meninggal pada 18 Juli 2010. 

Disertasi yang ditulisnya berkisah tentang kehidupan bangsa Indonesia di bawah “tiga bendera;” Belanda, Jepang dan Masa Kemerdekaan. Peter hidup di tiga masa. Ia menyebut ada “autobiographical perspective” dalam karya yang ditulisnya tersebut. Karenanya, Peter banyak bertutur tentang kehidupan pribadinya untuk dijadikan perspektif dalam mencermati keindonesiaan. Perubahan sikap dan cara pandang kerap muncul dari analisisi autobiografis dalam sejarah Indonesia. 

Salah satu bagian yang menarik dari cerita Peter adalah ketika ia menarasikan masyarakat Tionghoa di Cilimus. Menarik, setidaknya bagi saya, karena kisah Peter tentang bagaimana kehidupan masyarakat Tionghoa di sebuah desa di lereng Gunung Ciremai itu adalah satu-satunya dokumen tertulis. Saya memang pernah melakukan interview dengan kurang lebih 7 orang tentang kisah tersebut. Namun, kisah yang ditulis Peter adalah karya akademik tentang Tionghoa di Cilimus yang pernah saya baca. Tulisan ini sekadar menceritakan kembali kisah yang pernah ia tulis. 

Peter membuka Bab I (Growing up in the Dutch East Indies, 1919-1945) dengan mengisahkan kehidupannya. Putera dari pasangan Sun Seng Tjay dan Kwa Rose Nio menuturkan bahwa pada masa kelahirannya, penduduk Cilimus kurang lebih berjumlah 5000 jiwa. Sebagian besar adalah Orang Sunda, sementara ada kurang lebih 500 warga Tionghoa disana. Benny G. Setiono, Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) kelahiran Caracas menyebutkan ada 800-an warga Tionghoa di Cilimus dan Caracas. Narasumber lain yang pernah saya wawancarai menyebut angka 1000-an orang Tionghoa di Cilimus dan Caracas. 

Separuh diantara warga Tionghoa itu menjalankan bisnis kecil. Lima belas persennya, hidup dari menanam padi, kacang dan bawang merah. Sementara sisanya bekerja di toko-toko. Mereka tinggal di pinggir jalan utama, sepanjang kurang lebih dua kilometer ke utara dan selatan. Orang Sunda sendiri tidak tinggal di jalan utama, mereka hidup di perkampungan yang dipisah oleh lapang, bukit dan sungai. Orang-orang Sunda ini bekerja sebagai buruh tani, kacang dan bawang. Mereka juga menernak ayam dan kambing untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada juga yang berjualan buah-buahan, sayuran, sate dan makana kecil. Ayah Peter, bekerja sebagai pengepul kacang dan hidup berkecupan dari usahanya tersebut. Ketika harga kacang sedang ada di puncak pada 1919, Peter dilahirkan. Tepatnya pada hari Jumat jam 6 pagi, dengan dibantu oleh Ibu Umbaran, seorang dukun bayi yang juga membantu kelahiran kakak perempuannya. Kakek Peter, Sun Hong Kok, adalah orang yang paling bahagia karena Peter adalah cucu laki-laki pertamanya. Liang Tek berarti “good morals,” moral yang baik. Sementara Sun adalah nama marganya. 

Sun Hong Kok kemudian mengundang tetangganya untuk mengadakan slametan. Karena hidup di Indonesia, maka mereka juga turut mengikuti adat masyarakat disana. Kehidupan antara warga etnis Tionghoa dan Sunda, kata Peter sangatlah harmonis. Ia kemudian merujuk pada kisah tentang Sunan Gunung Jati yang mempersunting putri Tionghoa, Ong Tin. Ketika Peter berusia satu tahun, ibunya membuka warung kecil yang menjual rokok, kretek, teh, kopi, gula, sabun dan perabotan rumah tangga. Ayah Peter membantu kakeknya yang punya relasi dengan para eksportir di Cirebon. Bi Sajem, adalah asisten rumah tangga keluarga Peter. Anak Bi Sajem, Amir adalah teman main Peter dan menjaganya ketika ia tidur. 

Saat berusia dua tahun, Peter bermain dengan kakak perempuannya, An Nio serta dua orang sepupunya An Dun dan Ji Tiok di halaman tetangga rumahnya. Pamannya yang usil, Seng Goan, adik termuda ayahnya, berusia 15 tahun. Dia kerap mengganggu keponakan-keponakannya yang sedang bermain “jual-beli kacang.” Anak-anak itu menggunakan krikil sebagai kacang dan tongkat kecil dengan batu sebagai pendulum untuk timbangannya. Ji Tiok yang berperan sebagai penjual sementara lainnya jadi pembeli. 

Satu hari, Seng Goan, mengganggu mereka dengan menendang krikil, kemudian lari. Ji Tiok menangis. Ji San, kakaknya Ji Tiok, yang mendengar adiknya menangis kemudian segera mengambil batu dan dilemparkan kepada Seng Goan. Batu tepat mengenai dahi Seng Goan. Tetangga-tetangga kami, Sunda dan Tionghoa segera datang memberi pertolongan. Kakek, tak bisa berbuat apa-apa. Ia menangis. Seng Goan kemudian meninggal. Kejadian yang kemudian membawa luka mendalam untuk kakek Sun Hong Kok. 

Pasca Perang Dunia I, tak hanya cerita kesejahteraan ekonomi yang tersaji di Cilimus, tetapi banyak juga dari mereka yang menderita disentri. Banyak orang meninggal di desa-desa yang jauh dari kota. Penyakit disentri menyebar cepat di Cilimus. Setidaknya, satu orang Cilimus meninggal tiap harinya. Mereka tidak mengenal pengobatan modern. Mereka hanya berdoa dan menyerahkan diri kepada Tuhan. Tidak ada rumah sakit atau balai pengobatan di Cilimus. Hanya ada satu mantri dan itu pun tingagl di Kuningan atau Cirebon. 

Warga tidak mampu membayar dokter dan membeli obat-obatan dari apotik. Mereka lebih memilih pengobatan tradisional dan masih memandang obat-obatan dari Barat dengan penuh kecurigaan. Rumor yang menyebar di kalangan masyarakat desa bahwa dokter itu tidak cukup terlatih dan tidak cukup terpercaya. Karenanya, mereka lebih memercayai dukun yang juga bisa memanggil roh. Dokter menjadi tidak cukup populer apalagi ketika mereka menyarankan Kuwu Cilimus untuk mengarantina pasien. Kerabat terdekat pasien memilih untuk berpuasa atau tidak memakan garam dan daging sembari berdoa pada malam hari. Mereka berharap ada mukjizat yang menyembuhkan anggota keluarga yang terkena penyakit. 

***

Peter Liang Tek Sun pun terkena disentri pada 1924, atau ketika ia berusia lima tahun. Ia menderita diare yang membuatnya sering keluar lendir dan darah. Setelah dua bulan sakit, wajahnya terlihat pucat dan badannya kurus. Kakeknya (Sun Hong Kok) tak memanggil dokter. Ia memilih tabib Tionghoa yang memberikan Peter obat-obat tradisional. Kakek Peter sendiri sesungguhnya adalah seorang “Feng Shui Sinshee” dan selalu dimintai pendapat oleh tetangganya yang akan membuat rumah, menikah, memulai usaha dan lainnya. Mereka menanyakan tentang hari baik agar bisa membangun rumah tangga yang bahagia atau sukses dalam usaha. 

Satu hari, kakek meminta ayah untuk memindahkan Peter ke kamar tidurnya. Kakek Sun bermimpi dia bertemu dengan orang tua yang menasihatinya agar memindahkan pohon mangga ke sudut barat halaman belakang jika ingin menyelamatkan pohon tersebut. Kakek Sun menafsirkan mimpinya itu sebagai nasehat agar Peter harus segera pindah ke kamar tidurnya di sisi barat rumah, untuk menyelamatkan hidupnya. Kakek Sun menghabiskan waktu tiga minggu di kamar tidur Peter sebelum kemudian kondisinya semakin memburuk dan akhirnya meninggal, di usia 64 tahun. Kesedihan tak hanya dirasakan oleh keluarga dan orang Tionghoa, tetapi juga semuanya. 

Bi Sajem, pembantu keluarga Peter, kemudian menggendong Peter untuk memberi penghormatan pada Kakek Sun. Peter melihat ayah, ibu, paman dan bibinya berlutut di depan peti mati dan perlahan membakar dupa. Setelah membungkuk beberapa kali untuk menunjukkan penghormatan, mereka kemudian mengelilingi peti mati mengikuti Biksu Buddha yang berpakaian kuning dan membawa tasbih sembari menyampaikan puji-pujian Tionghoa dengan melankolis dan diiringi seruling serta alat musik tradisional yang disebut rebab. Di belakang peti, ada patung bambu duduk yang dibungkus dengan pakaian kakek Sun yang melambangkan kehadirannya. 

Keesokan harinya, banyak orang Tionghoa di sekitar rumah melantunkan puji-pujian dan dilihat oleh warga non Tionghoa. Setelah penghormatan terakhir dilakukan oleh keluarga, peti mati kakek dibawa ke pemakaman Tionghoa untuk dimakamkan. Sepuluh orang yang berpakaian serba hitam, membawa spanduk kuning bertuliskan peribahasa dan ajaran Tionghoa. Semua berharap bahwa almarhum akan disambut oleh Tuhan Surga danBumi. Mereka berjalan perlahan di depan prosesi diikuti oleh seorang biksu dan dua musisi tradisional Cina. Di belakang biksu, dengan menggunakan baju dan ikat putih di kepalanya, ayah Peter berjalan perlahan, membawa wadah dengan perlahan-lahan sembari membakar dupa di dalamnya. Anggota keluarga lain mengikuti peti mati sembari menangis. 

Setelah bergerak perlahan melewati Pecinan tibalah di pemakaman. Di sana, sekelompok orang sedang menunggu mengubur peti mati dan kemudian upacara akhir. Kakek Sun telah mengatur dan membangun makamnya bertahun-tahun sebelum kematiannya. Dia memilih tempat dengan hati-hati, memastikan bahwa dari kuburan itu tersaji view yang indah; Gunung biru Ciremai dan sungai Cibacang yang mengalir sampai jauh. Satu per satu meninggalkan kuburan setelah makan nasi rames, lalu pergi kembali ke rumah masing-masing. Ucapan terima kasih disampaikan oleh anggota keluarga dekat almarhum kepada mereka yang turut hadir di pemakaman. 

Pasca kepergian kakek Sun, ayah Peter kemudian melanjutkan pengobatan untuk sakit disentrinya. Dokter herbal Tionghoa dari Cirebon datang rutin untuk memeriksa kondisi Peter. Dia pun merasa lebih baik meskipun ayahnya harus mengeluarkan banyak uang untuk terapinya. Selera makan yang meningkat membuat ia lebih cepat untuk pulih dan kuat. Peter bisa bermain dengan adiknya, An Nio dan Amir. Banyak anak-anak kecil dari masyarakat Cilimus yang tidak terselematkan karena orang tua mereka miskin dan tidak kuat membeli obat atau membayar dokter. 

Pemerintah Kolonial tidak memiliki cukup banyak dokter dan obat-obatan untuk merawat serta mengobati masyarakat yang sakit. Meskipun mereka mengeluarkan kebijakan Politik Etis, yang selalu dibanggakan, tapi pemerintah tidak cukup mengalokasikan dana untuk mendukung kesehatan masyarakat. Perang Dunia I menyebabkan jalur transportasi untuk pengiriman kebutuhan pokok menjadi tidak lancar. Ledakan ekonomi pasca perang yang ditandai ekspor bahan baku tidak memperbaiki kondisi ekonomi di Belanda dan negara-negara koloninya. Epidemi disentri di Cilimus sangat parah sehingga anak bungsu tetangga Peter, Kwi Jin, tidak terselamatkan karena mereka tidak cukup punya uang untuk membeli obat. 

Peter sendiri akhirnya sembuh dari disentri, 3 bulan setelah meninggalnya Kakek Sun. 

***

Karena tidak ada sekolah Tionghoa di Cilimus, maka Peter dimasukkan ke sekolah pribumi oleh ayahnya. Pada saat itu, keluarga Tionghoa yang kaya biasanya mendatangkan guru privat untuk mengajari bahasan dan kebudayaan Tionghoa. Beberapa diantaranya mengirim anak-anaknya belajar ke sekolah Tionghoa di Cirebon. 

Peter berusia enam setengah tahun ketika ia masuk sekolah. Meski sekolah tersebut diperuntukkan bagi orang Sunda, tetapi kaum Tionghoa juga diterima. Peter memakai sepatu baru, kemeja dan celana sutra yang dibeli kakeknya dari Tiongkok. Sementara murid-murid dari kalangan pribumi hanya memakai sandal atau bahkan tak beralas kaki. Kebanyakan dari mereka mengenakan sarung, kemeja dan kopiah. 

Pakaian yang dikenakan Peter rupanya membuat beberapa siswa kalangan pribumi menjadi cemburu. Salah satunya, Pekih. Saat pulang sekolah, Pekih menaruh kotoran di sepatu Peter. Peter marah dan menendan Pekih. Saat mereka sedang adu jotos, ayah Peter, Sun Seng Tjay, melerainya. Setelah kejadian itu, tiap hari Sun Seng Tjay mengantar dan menjemput Peter. 

Peter kecil kerap bermain di sungai atau kolam yang dibuat oleh pemerintah Belanda untuk mengairi sawah terutama saat musim panas. Di sebuah kolam yang bernama “Kedung Jambe (Kali Jambe?)” yang bekedalaman tiga hingga meter, Peter dan teman-temannya kerap menghabiskan waktu. 

Di suatu pagi, tiga orang Tionghoa yang cukup berpengaruh di Cilimus mendatangi Sun. Mereka bermaksud untuk mendirikan sekolah khusus Tionghoa yang mengajarkan anak didiknya tentang bahasa dan kebudayaan Tionghoa. Kepada Sun, ketiga orang itu bermaksud untuk mengajaknya menjadi donatur untuk pembangunan sekolah tersebut. setelah sekolah dibuka, Peter disekolahkan oleh ayahnya disana. Pengajaran dimulai pukul 14.00 dan selesai tiga jam kemudian. Namun, karena kesulitan keuangan sekolah Tionghoa di Cilimus hanya bertahan tiga tahun. Sun ingin agar Peter memiliki kemampuan berbahasa Belanda yang baik. Setiap siang, Peter berangkat menggunakan dokar menuju tempat Mr. van Heimer di Sangkanurip dengan ditemani Baenah, salah satu pengasuhnya. Rupanya Peter sangat tertarik belajar Bahasa Belanda. Sejak saat itu, Peter kemudian meninggalkan sekolah pribumi, setelah empat tahun melakoninya, dan intens belajar Bahasa Belanda. Jam pelajaran pun berpindah dari siang ke pagi. Tapi, itu tak berlangsung lama. Sun memutuskan untuk mengirim Peter yang kala itu berusia 11 tahun, ke sekolah Belanda di Cirebon. 

Dari tahun 1928 hingga 1932 Indonesia mengalami depresi besar yang menyebabkan banyak pengangguran dan menurunnya ekonomi. Di Cirebon, Peter rupanya menjadi anak yang cerdas. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Sekolah Belanda dengan baik dan kemudian pergi ke Solo dan Jogjakarta untuk studi Guru Bahasa Belanda dan belajar di Sekolah Teologi. Peter meninggalkan sekolah untuk kembali ke Cilimus. Ketika Jepang datang, keluarga Peter pindah ke Kadugede, Kuningan. Sekolahnya tidak dituntaskan, karena semua pemuda saat itu diwajibkan ikut menjadi tentara sukarelawan Jepang. Peter pun ikut serta. Ia dilatih sebagai Keibotai di Linggajati dibawah komando Jenderal Watanabe. 

10 Maret 1946, Peter melangsungkan pernikahannya dengan Elizabet T.H. Tan dan dikarunia anak pertama, Abram Sun Hok Djien yang lahir di Kuningan pada 6 Desember 1946. Sekitar Juni 1946, kekerasan terhadap etnis Tionghoa terjadi di Tangerang, tepatnya di Rajeg, Gandu, Balaraja, Cikupa, dan Mauk. Peter mendengar kabar tersebut dan berpikir untuk pindah dari Kuningan. Peter dan istri mengunjungi saudara-saudaranya di Cilimus, Jalaksana, Kadugede, Ancaran dan Lengkong sesaat setelah menikah. Mereka mendapatkan 1500 rupiah dari keluarga-keluarganya itu. Uang tersebut dijadikannya sebagai modal untuk membuka usaha pembuatan minyak rambut yang ia jual di toko kecilnya. 

Namun, Kuningan tak berubah banyak pasca kemerdekaan. Itulah yang semakin menguatkan Peter untuk pindah. Akhirnya, Peter berpindah ke Cirebon dan tinggal di sekitar Jalan Kebon Cai. Ia membeli sebuah toko kecil di Pasar Balong seharga 10.000 rupiah dan menjual buku-buku bekas, obat-obatan, minyak rambut dan parfum serta lain-lainnya. Kehidupannya mulai berangsur tenang dan nyaman. Mereka cukup menikmati kehidupan barunya tersebut. 

Pada 20 Juli 1947, tentara Belanda membombardir Cirebon. Itu adalah agresi militer pertama Belanda pasca perundingan Linggajati. Jam 7 pagi Peter keluar rumah dan terlihat olehnya tentara Belanda sedang berpatroli. Peter mendengar kabar bahwa di Cilimus ada kurang lebih 46 orang warga Tionghoa meninggal dan rumah-rumah mereka dibakar. Sopir tentara Belanda mengatakan pada Peter bahwa pamannya, Gouw Tjiauw Seng dan keluarganya di Jatitujuh Majalengka dibunuh oleh para bandit. Teman Peter, Jap Tiang Oen, menginfokan padanya kalau semua warga Tionghoa di Maja, juga dibunuh serta rumah-rumahnya dibakar. Dia sendiri selamat karena pergi ke Kadipaten sehari sebelumnya untuk berobat. 

Ketika itu, Peter berusia 29 tahun. Ia kemudian memutuskan untuk ikut kendaraan tentara Belanda dari Cirebon menuju Kuningan. Peter sampai di Cilimus, dimana ia melihat ada 46 warga Tionghoa terbunuh. Tak hanya itu, ia juga melihat rumah-rumah yang dibakar dan mayat-mayat tergeletak di tanah. Tidak ada Palang Merah yang membantu mereka. Teman Peter, Lie Pian Hong, terlihat sedang mencari saudaranya yang terbunuh di halaman belakang sebuah rumah yang terbakar. Dia menemukan mayatnya dekat sebuah sungai. Ia tak sempat menguburkannya, sampai kemudian mereka meninggalkannya untuk menyelamatkan diri. Setelah dari Cilimus, Peter kemudian turut serta pergi ke Cijoho, Kadugede, Ciawigebang, Luragung dan Lebakwangi. Truk-truk besar Belanda penuh dengan pengungsi dari wilayah tersebut untuk kemudian pergi ke Cirebon. Zaman ini yang biasa dikenal sebagai zaman “gedoran Cina.” 

Suatu hari, van der Linde, pendeta yang pernah ditugaskan di Cirebon pada 1930-1938 mendatanginya. Ketika itu, van der Linde adalah pendeta bagi tentara Belanda. Ia mengajak Peter pergi ke Bandung dan Jakarta. Peter merasa itu kesempatan yang baik untuk menambah relasi dan mencari pekerjaan disana. Hingga kemudian pada Januari 1948 ia memulai kursus untuk menjadi guru. Kursus tersebut diorganisir oleh Menteri Pendidikan di Batavia. Peter sendiri belajar di Belanda dan diajar oleh Guru Belanda. Ia menyelesaikan studinya selama dua tahun dan kemudian mendapatkan pekerjaan di “the Nederlands Indische Handels Bank” dengan gaji 350 guilders per bulan. Sebulan kemudian ia pindah ke Pusat Perkebunan Negara (Head Office of Government Plantations) dengan gaji 450 guilders per bulan. 

Catatan: Kisah ini disarikan dari Peter Liang Tek Sun, “A Life Under Three Flags: 1919-1975.”
0 komentar

Tepukan Tangan Mandi Beri Semangat Agassa

Liga Perancis atau Ligue 1 masuk minggu ke 37 di musim 2015/2016. Meski sang kampiun telah diketahui, Paris Saint Germain (PSG), tapi beberapa pertandingan akan sangat menentukan, terutama bagi beberapa tim yang tengah berjuang untuk menghindari jurang degradasi. Satu tiket menuju Ligue 2 sudah dikantongi ESTAC Troyes. Tiga klub lainnya sedang dalam ancaman untuk menemani Troyes, yakni Toulouse FC, GFC Ajaccio dan Stade de Reims. 

Reims menempati posisi ke 18 dengan poin 36 dari 36 pertandingan yang telah dijalani. Dibawahnya menguntit Toulouse yang hanya berselisih dua poin dengan Reims. Sementara di atas Reims ada Ajaccio yang berbeda satu poin. Di laga ke 37 yang berlangsung pada 7 Mei 2016, Reims dijamu Olympique de Marseille, klub besar namun di musim itu hanya menjadi penghuni papan tengah.
Berlaga di Stade Velodrome, Reims menggunakan kaos tandang berwarna hitam. Seperti biasa, Aissa Mandi menjadi kapten tim sekaligus penggalang lini pertahanan. Sementara di kubu Marseille, kiper Steve Mandanda tetap dipercaya untuk menjadi kapten tim. Babak pertama berakhir dengan kedudukan kacamata alias kosong-kosong. Masuk menit 55, Reims dalam tekanan. Namun bola ada di kaki pemain-pemain klub yang berdiri pada tahun 1910 dengan nama Société Sportive du Parc Pommery. Atila Turan, bek kiri Reims berkebangsaan Turki tak kuasa untuk mengoper langsung ke depan, karena memang ruang geraknya sangat sempit. Ia terpaksa harus memulai serangan dari bawah. Tak lama menguasai bola, pemain kelahiran 10 April 1992 itu mengoper kepada penjaga gawang, Kossi Agassa. 

Agassa malam itu dipercaya sebagai penjaga gawang Reims. Pria berkebangsaan Togo itu bermain 1440 menit pada musim sebelumnya dan 901 menit pada musim 2015/2016. Operan pelan Turan itu mestinya bisa dikontrol Agassa. Namun, kiper bertinggi 190 cm itu agak sedikit hilang keseimbangan. Padahal di depannya, Michy Batshuayi, striker Marseille asal Belgia, juga turut mengejar si kulit bundar. Agassa mencoba mengarahkan bola untuk ia buang ke luar lapangan.Tapi celaka. Kaki kiri Batshuayi bisa memblok bola yang hendak dibuang Agassa. Gol. 

Kedudukan berubah, 1-0 untuk keunggulan tuan rumah. Agassa bangkit dengan agak gontai. Tatapannya kosong melihat rekan-rekan di depannya. Di dekat Agassa, Aissa Mandi segera berlari menuju gawang. Ia sempat menunjuk ke arah bola sembari melihat Agassa. “Segera ambil bolanya, kita balas gol itu.” Mungkin itulah kalimat tak terucap Mandi. Karena Agassa seperti masih menyesali kesalahannya, Mandi segera berlari untuk mengambil bola. Saat pemuda Aljazair itu didekat Agassa, tangan kirinya memegang kepala Agassa. Pria 24 tahun itu seperti hendak mengangkat moral rekannya yang membuat kesalahan, “Ayo Tetap Semangat Agassa.” 

Reims bukannya tanpa peluang. Dari sebuah tendangan bebas di akhir pertandingan, Jaba Kankava mendapatkan bola matang untuk dikonversi menjadi gol. Sayang, sontekannya terlalu pelan dan tidak cukup merepotkan Madanda. Hingga akhir pertandingan, kedudukan tak berubah. Reims pun takluk kepada tuan rumah. 

Di pertandingan terakhir, Reims dengan meyakinkan mampu memukul telak Lyon, 4-1. Tapi kemenangan itu tak menolong mereka untuk tetap bertahana di Ligue 1, karena di pertandingan lain Toulouse menang 3-2 di kandang Angers SCO. Reims harus bermain di Ligue 2 musim 2016/2017 bersama dua tim lainnya yang juga terdegradasi, Ajaccio dan Troyes, yang hanya bisa bertahan satu musim di Ligue 1 setelah promosi dari Ligue 2 setahun lalu. 

Aissa Mandi, kapten tim Reims, tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Melalui akun pribadinya ia berkicau pada 15 Mei 2016, sesaat setelah Reims memastikan terdegradasi. “Triste pour le SDR, triste pour mon club. Triste comme tous nos supporters.” Kesedihan yang mendalam, baginya, klub dan juga para supporter. 

Agassa mungkin akan menjadi orang yang paling bersalah. Ia pasti tidak mudah melupakan kaki kiri Batshuayi yang berhasil menahan bola dan malah berbalik menjadi gol. Perubahan skor yang kemudian “mengantarkan” Reims menuju kasta kedua liga. Tapi, Agassa pasti tak akan lupa, bahwa saat ia nyaris terpuruk, ada tepukan tangan kiri Mandi yang memberinya semangat untuk segera bangkit. Oh ya, Mandi juga pasti tak akan lupa, bahwa ia dan Agassa pernah punya cerita bersama. Mandi mencetak dua gol bunuh diri pada tahun 2014, ketika PSG menggulung mereka. 

NB: Di Musim 2016/2017, Aissa Mandi bermain untuk Real Betis di La Liga Spanyol. Sementara Kossi Agassa tidak diketahui bermain untuk klub mana di musim ini.
0 komentar

“Tjilimoes” Bukan (Bagian) “Koeningan”


Tjilimoes (Kecamatan Cilimus sekarang) merupakan salah satu onderdistrict di regentschap of afdeling Cheribon di bawah distrik Beber, bersama distrik Cheribon, Beber, Mandirantjan, Sindanglaoet, Losari, Palimanan, Gegesik-lor dan Plumbon. Onderdistrict Tjilimoes ada di bawah Beber bersama dengan Beber, Korejak (sekarang Koreak, sebuah desa di Kecamatan Cigandamekar), dan Djalaksana (sekarang; Jalaksana). Di Distrik Beber, Wedana ada di Tjilimoes

Jika saat ini Kecamatan Cilimus merupakan bagian dari Kabupaten Kuningan, saat itu, Tjilimoes adalah bagian dari Distrik Beber dibawah Regentschap Cheribon. 
Menarik jika mencermati kebudayaan masyarakat Cilimus dalam format administratif Belanda (tahun 1883) dan sekarang. Dalam Stbl no. 285 tahun 1883, distrik yang berada di bawah Regentschap Cheribon terpolarisasi ke dalam dua kutub kebudayaan besar; Sunda dan Cirebonan. Semua onderdistrict di bawah Beber, Mandirantjan (kecuali Soember), dan Losari (kecuali Losari-lor dan Gebang) adalah wilayah dengan kebudayaan Sunda. Sisanya adalah masyarakat Cirebonan. 
Pembagian wilayah administratif pasca kemerdekaan, membuat Cilimus dan Beber berpisah. Keduanya sama-sama menjadi sebuah kecamatan, tapi di dua kabupaten yang berbeda. Beber ada di Kabupaten Cirebon, sementara Cilimus masuk bagian dari Kabupaten Kuningan. Perpisahan keduanya menyisakan cerita yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. 
Walaupun ada di wilayah Kabupaten Kuningan sekarang, tetapi Cilimus sejatinya memiliki formasi kebudayaan yang unik dan sedikit berbeda dengan masyarakat yang dulu pada zaman Belanda masuk di wilayah Koeningan (Koeningan, Kadoe-gede, Loerahgoeng, Tjiawigegbang dan Lebakwangi). Bagi sebagian masyarakat Cilimus (yang saya wawancarai), Kuningan itu adalah kabupaten administratif, bukan “kabupaten kebudayaan.” Tentang kebudayaan masyarakat Cilimus ada dalam catatan lain. 
Struktur kebudayaan yang melingkari masyarakat di utara Kuningan ini, justru lebih dekat dengan Beber yang sekarang ada di Kabpupaten Cirebon. Perhatikan misalnya wilayah-wilayah yang sekarang masuk Beber dan menggunakan Sunda sebagai bahasa pengantarnya. 

Cilimus seperti menjadi “Kuningan yang lain,” yang dalam batas-batas tertentu seperti halnya Beber sebagai “Cirebon yang lain.” Meski seperti “Kuningan yang lain,” Cilimus juga berbeda secara kultural dengan arus utama kebudayaan masyarakat Cirebon sekarang. Jika ada garis silang antara masyarakat Cilimus dengan Cirebon salah satunya bisa jadi karena faktor geneologis.
Keturunan Buyut Maijah, salah satu keluarga santri yang anak, cucu dan buyutnya banyak tinggal di Desa Timbang, Cilimus, Sangkanurip, Bojong dan beberapa tempat di Kecamatan Cilimus serta Mandirancan, mungkin bisa sebagai contoh. Perlu penelitian lebih lanjut untuk menguatkan hal ini.
Pada gilirannya, Cilimus ada di area budaya ambang batas atau liminal. Tidak Kuningan, tidak juga Cirebon, meski ia ada di Kuningan dan berarsiran dengan daerah-daerah Cirebon.

Pada 12 Desember 1883, Pemerintah Belanda mengeluarkan Staatsblad Van Nederlandsch-Indie. Dalam dokumen nomor 285, Staatsblad atau sejenis undang-undang negara, mengatur tentang pemerintahan Residen Cirebon. Dokumen yang ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal, F. s’Jacob tersebut adalah sebentuk revisi terhadap Staatsblad nomor 73 (1 Maret 1874) dan nomor 117 (12 Mei 1875). Nama lengkap dokumen itu adalah “Bestuur Cheribon: Wijziging der indeeling van de residentie Cheribon in districten en onderdistricten.” 

Staatsblad yang diteken di Bogor (Buitenzorg), mengatur tentang pembagian kabupaten (regentschap of afdeling), district (kawedanan) dan onderdistrict (kecamatan). Karesidenan Cirebon, dalam staatsblad itu membawahi 5 afdeling, masing-masing; Cheribon, Indramajoe, Madjalengka, Galoeh dan Koeningan. Dibawah afdeling Koeningan ada Madjalengka ada 5 distrik, Galoeh 4 distrik, dan Indramajoe 3 distrik. Cheribon yang paling banyak, membawahi 8 distrik. 
0 komentar
 
Copyright © 2014. TEDI KHOLILUDIN - All Rights Reserved
Facebook:Tedi Kholiludin