Dewi Siti Kalsum, Pendamping Setia Sang Imam

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, barangkali  tidak menyangka kalau garis hidupnya akan membawa ia ke Malangbong, Garut, Jawa Barat. Kartosoewirjo, yang kelak menjadi Imam dari Darul Islam (DI) bahkan tak memiliki keluarga yang “islami”. Lahir di Cepu, 7 Januari 1907 Kartosoewirjo beruntung karena memiliki guru yang sangat pas untuk seorang aktivis, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang kerap dijuluki sebagai “Raja Jawa tanpa Mahkota”.

Foto: tempointeraktif.com
Holk H. Dengel (1996: 8-9) penulis buku “Darul Islam dan Kartosoewirjo” mengatakan, Kartosoewirjo bahkan diminta untuk menjadi sekretaris pribadi Tjokroaminoto. Pada bulan September 1927 pergilah Kartosoewirjo ke Surabaya atas permintaan Tjokroaminoto.

Tjokroaminoto kemudian pindah ke Cimahi, tentu saja Kartosoewirjo turut pindah ke sana. Di Bandung, Kartosoewirjo berkesempatan juga bertemu dengan tokoh-tokoh politik lainnya termasuk Soekarno.

Singkat cerita, di Malangbong, Garut, Kartosoewirjo berkeinginan untuk belajar Islam, meski ia juga mendapatkannya dari Tjokroaminoto. Beberapa Ajengan yang menjadi guru ngajinya antara lain, Ardiwisastra dari Malangbong, Kiai Mustafa Kamil dari Tasikmalaya dan Kiai Yusuf Tauziri dari Wanareja.

Ardiwisastra tak hanya seorang Ajengan, tetapi juga ningrat kaya di Malangbong. Ardiwisastra pernah ditahan oleh Belanda karena pernah melakukan provokasi kepada sejumlah ajengan untuk membangkan Belanda. Peristiwa Cimareme adalah salah satu “karya” politik dari Ardiwisastra yang ditandai dengan penembakan Haji Sanusi tahun 1916.

Tahun 1913, lahirlah seorang puteri dari pasangan Ardiwisastra dan Raden Rubu Asiyah. Namanya Dewi Siti Kalsum, yang akrab dipanggil Wiwiek. Dewi adalah kembang Malangbong, yang cukup terdidik karena berkesempatan mengenyam pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) met de Quran Muhammadiyah Garut. Di sekolah yang didirikan tahun 1914, Bahasa Belanda menjadi pengantar. Siswa sekolah ini pun terbatas pada kalangan bangsawan. (Tempo, 22/8/2010, 36)

Saat Dewi menginjak usia 15 tahun, datanglah seorang aktivis yang tengah naik daun di Malangbong. Terpilih sebagai Sekretaris Umum Partai Sarekat Islam pada Desember 1927, Kartosoewirjo adalah pemuda yang sangat pintar beretorika. Di saat yang sama, Dewi juga sudah mulai akrab dengan dunia pergerakan. Wajar, karena Ardiwisastra adalah tokoh Partai Sarekat Islam Indonesia di Garut.

Kartosoewirjo tertarik dengan Dewi dan menikahinya pada bulan April 1929. Ardiwisastra mengambil menantu Kartosoewirjo karena ia memang punya haluan politik yang sama selain juga karena ia adalah santri Ardiwisastra.

Ikut Gerilya
Selama 13 tahun lamanya, Dewi mendampingi Kartosoewirjo masuk keluar hutan. Dewi setia mendampingi Kartosoewirjo bolak balik Jakarta-Bandung-Garut-Yogyakarta. Dewi terpaksa pulang ke Malangbong saat suaminya ditahan karena melawan pemerintah Belanda.

Dewi tak hanya menjadi isteri yang sangat setia, tapi kampung halamannya adalah zona nyaman bagi “pembela Tuhan” seperti Kartosowirjo. (Dengel, 1995: 10) Sebagai perempuan biasa, Dewi tentu saja ketakutan saat mendampingi Kartosoewirjo di hutan belantara. Ia mulai berpikir tentang masa depan anak-anaknya. Tapi, Kartosoewirjo selalu membesarkan hati Dewi. Dan jika sudah ada belaian sayang dari Kartosoewirjo, tegarlah kembali hati “kembang Malangbong” itu.

Dewi melahirkan 12 anak. Lima diantaranya meninggal dan tiga anak terakhirnya lahir di tengah hutan saat ia mendampingi sang suami. Awal Juni 1962 Kartosoewirjo ditangkap melalui sebuah operasi pagar betis. Kartosoewirjo divonis hukuman mati.

Soekarno yang menjadi presiden saat itu, berujar “menandatangani hukuman mati tidaklah memberikan kesenangan kepadaku…Di tahun 1918, ia seorang kawanku yang baik. Kami bekerja bahu membahu bersama Pak Cokro demi kejayaan tanah air...Akan tetapi ketika aku bergerak dengan landasan kebangsaan, dia berjuang semata-mata menurut azas agama Islam”. (Adams, 1966: 403)

Sebelum dieksekusi pada 5 September 1962, Kartosoewirjo berwasiat di hadapan Dewi Siti Kulsum dan anak-anaknya. Kartosoewirjo berujar kepada Dewi mengatakan kalau perjuangan seperti yang ia lakukan tidak akan pernah terulang lagi. Dewi tak kuasa menitikkan air mata, juga Kartosoewirjo.

Pada 4 September 1962, Kartosoewirjo meminta diri dari keluarganya. Esok harinya pada pukul 5.50 Kartosoewirjo dieksekusi oleh regu tembak. Awalnya, tidak ada yang tahu pasti, dimana makamnya. Namu kemudian banyak yang menduga, Kartosoewirjo dimakamkan di Pulau Onrust, sebuah pulau setengah jam perjalanan di teluk Jakarta. Tapi kemudian foto-foto jelang penembakannya yang hak ciptanya dimiliki oleh Fadli Zon menunjukan kalau Kartosoewirjo dieksekusi dan dimakamkan di Pulau Ubi, kawasan Pulau Seribu.

Sepeninggal sang suami, Dewi dan anak-anaknya sebenarnya diperlakukan dengan baik oleh pemerintah. Mereka membaur dengan masyarakat, bahkan diberi fasilitas mobil dan sopir. Tapi, kekhawatiran tidak kemudian hilang begitu saja dari kehidupan Dewi. Jalinan silaturahmi dengan keluarganya malah tak terjalin. Bahkan tanah warisan Adiwisastra di Malangbong, juga tak lagi utuh.

Dewi Siti Kalsum, isteri setia sang Imam itu akhirnya meninggal pada 1998. Makamnya bersebelahan dengan makam sang ibu, Raden Rubu Asiyah di Masjid Jami’ di Kampung Bojong, Malangbong.

Itulah garis perjuangan Dewi Siti Kalsum. Masuk keluar hutan sebagai istri seorang yang dianggap sebagai “pemberontak”. Saya sedikit berkhayal, jika saja Indonesia saat ini menjadi “negara Islam”, posisi Dewi barangkali sama dengan Ibu Fatmawati. Fatmawati menjadi istri dari seorang ideolog republik Indonesia, Ir. Soekarno. Sekali lagi, kalau Indonesia sekarang adalah negara Islam, bukan tidak mungkin Soekarno dan kelompok nasionalis lah yang dalam sejarah akan tercatat sebagai “pemberontak”. Begitulah sejarah, tergantung siapa yang menulis. 
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

20 Juni 2017 21.33

om tedi masih jadi admin grup jil ngga?

Posting Komentar

 
Copyright © 2014. TEDI KHOLILUDIN - All Rights Reserved
Facebook:Tedi Kholiludin