Serba Serbi Wisuda (3): “Didampingi” Mustaqim

13 Maret 2015. Undangan wisuda untuk orang tua saya ambil di laci meja kantor eLSA. Ada satu undangan dan dua kertas berpeniti bertuliskan “orang tua mahasiswa.” Segera saya ambil paket undangan itu dan dibawa ke ruang tengah. Disana, anak-anak eLSA berkumpul sehabis melaksanakan kegiatan Sarasehan Lintas Agama. Saya menyodorkan paket undangan itu ke Mustaqim, “nih undangannya untuk besok. Orang tuaku gak bisa hadir, Mega juga masih di Filipina. Kamu nanti masuk ke auditorium jadi orang tua mahasiswa.” Mahasiswa semester 8 sebuah universitas negeri di Semarang itu tersenyum sembari membolak-balikan undangan berwarna hijau-kuning tersebut. “Besok, dandan yang rapi, pake sepatu, celana kain dan hem,” saya menyambung. “Wah, kalau begitu, saya harus dibelikan bajunya dong,” katanya sembari tertawa lebar. Maksudnya mungkin bercanda, tapi saya memang berniat untuk membelikannya. Biar agak “cerah.”

Setelah menyantap beberapa gelondong duren, saya pun mengajak Mustaqim ke sebuah toko pakaian di Jalan Pandanaran Semarang. Saya suruh dia memilih mana yang paling disukainya. Satu baju dia pegang, kemudian dikembalikan lagi. Sesekali ia mencobanya sembari bercermin. Begitu seterusnya. Hingga 20 menit, tak satupun ia mendapatkan baju yang pas. “Mas Ted, saya itu paling gak bisa milih baju,” keluhnya. “Ya sudah saya aja yang pilih, yang agak cerah ya, biar kamu juga kelihatan cerah,” tawar saya. Pemuda yang kampung halamannya baru saja tawuran itu hanya menganggukan kepala. Akhirnya saya memilih dan meminta pendapatnya. “Ini?,” tanya saya. “Ya itu saja mas,” jawabnya pendek. Setelah saya bayar, ia kemudian berbisik, “eh mahal juga ya mas.” Saya hanya tersenyum saja.

***

14 Maret 2015. Hujan deras mengguyur Semarang sejak pukul dua dini hari. Hingga kumandang adzan subuh berbunyi, hujan tak jua berhenti. Karena akan mengikuti prosesi wisuda, maka hari itu saya bangun lebih pagi. Setelah menunaikan sholat subuh, saya menyiapkan pakaian wisuda; Toga, topi dan lainnya. Hujan yang sepertinya tidak akan segera berhenti, membuat saya harus menyelamatkan baju dan pakaian untuk wisuda agar tidak basah. Akhirnya, baju, celana dan seragam wisuda saya masukan semua ke tas, termasuk sepatu. Dengan bercelana pendek, pakai sandal dan jaket serta tak lupa, jas hujan, saya segera menghidupkan motor. Tujuannya, menjemput Mustaqim di eLSA.

Sesampainya di eLSA, keadaan sudah bisa ditebak. Dimana-mana ada manusia sedang ngorok. Di ruangan kantor bagian depan, kamar belakang dan yang terbanyak tentu saja di perpustakaan. Mustaqim rupanya sudah bangun dan mandi. Dia pun memasukan semua pakaian yang digunakan untuk “mendampingi” saya ke dalam tas. Tak lupa, baju baru yang harga dan labelnya belum dicopot pun ia lipat rapi dan kemudian dimasukan ke tas. Ia sempat melihat sejenak tampilan saya. “Lha, mas Tedi cuma pakai beginian?” ujarnya heran. “Iyalah hujan. Semua baju saya masukan ke tas. Nanti kita berhenti dekat kampus untuk sarapan sekaligus ganti pakaian,” saya menerangkan.

Tepat pukul 05.40 saya dan pemuda yang mengaku punya pacar orang Semarang itu berangkat menuju Salatiga untuk mengikuti prosesi wisuda. Hitungan kasarnya, perjalanan 1,5 jam da nada waktu 15 menit untuk sarapan serta berganti pakaian. Sehingga bisa agak tepat waktu sampai kampus untuk berkumpul bersama winisuda lainnya sebelum berjalan menuju balairung tempat wisuda dijalankan.

Meski dibarengi dengan rintik hujan tiada henti hingga Salatiga, tetapi lalu lintas lancar. Sampai kemudian saya meminta Mustaqim berhenti di sebuah warung soto yang menyediakan kamar kecil. Setelah menyantap satu mangkok soto dan satu gelas jeruk hangat saya pun segera berganti baju dan celana serta mengganti sandal dengan sepatu. “Toga nanti dipakai di kampus saja,” kata saya kepada Mustaqim. Dia pun segera berganti pakaian. Keluar dari kamar kecil, wajahnya agak berbinar. Baju baru yang sudah dikenakannya ia pegangi terus. Dilapisi baju barunya itu dengan jaket. “Gimana mas Ted, penampilan saya,” tanyanya. “Mantap,” saya memujinya, meski agak terpaksa.

Di kampus, suasana cukup riuh. Winisuda berjalan hilir mudik menuju lapangan basket tempat berkumpul sebelum masuk auditorium. Penjual bunga dan jasa foto sudah berjejer rapi. Banyak winisuda dan keluarganya yang sudah cekrak cekrek berfotoria. Beberapa diantaranya berfoto sembari memegang bunga pemberian pacar, sahabat dan keluarga. “Waduh, saya kok gak ada yang ngasih bunga ya qim,” tanya saya ke Mustaqim. “Hehehe…nanti saya ambil yang dekat lapangan mas,” kata pemuda yang menjulukinya sebagai sang Penakluk wanita.

Karena agak jauh kalau harus salin di kamar mandi, saya pun menghampiri dua satpam kampus yang sedang berdiri di dekat pos jaganya. “Pak saya mau numpang pakai toga ya,” saya meminta izin. “Oh, ya silahkan mas,” kata salah satu satpam mempersilahkan. Setelah rapi, saya keluar dari pos dan mengucapkan terima kasih pada bapak satpam. “Sebentar mas Ted, ini ada yang belum rapi,” sergah Mustaqim sembari membetulkan toga. “Iya nih, gak ada yang pakaikan jadi gak bisa rapi,” kata saya. Kami pun kemudian berpisah, Mustaqim langsung menuju ruangan dalam auditorium di lantai dua. Dan saya berkumpul dengan winisuda lainnya, untuk kemudian mengikuti prosesi wisuda.

***

Tepat pukul 12.00 prosesi wisuda selesai. Saya pun segera mencari Mustaqim yang kebetulan membawa kamera. Target saya, bisa berfoto dengan John Titaley (JT), karena pas wisuda S2, John tidak ada di balairung karena saat itu ia bukan rektor. Meski harus mengantri, akhirnya saya bisa berfoto dengan JT. “Mana isteri,” tanya JT saat kami berfoto bersama. “Lagi di Filipina,” jawab saya. “Ngapain?,” JT balik bertanya. “Kerjaan kantornya,” saya menjawab. Setelah itu, beberapa teman dan mahasiswa Magister Sosiologi Agama juga berfoto bersama.

“Ayo qim kita pulang,” saya mengajak Mustaqim pulang. “Ayo mas, tapi gak foto dulu dengan Mas Ubed? Lagian masih hujan juga,” kata Mustaqim. Ubed, yang saat itu juga diwisuda, memang berencana untuk foto bersama pasca diwisuda. Tapi ia berkirim kabar kalau ia pulang duluan karena sopir yang membawanya akan ada acara lain. “Ubed udah pulang qim, kita nunggu hujan agak reda aja ya,” ujar saya. “Iya mas, sekalian nunggu Mas Encep. Ini sudah hampir sampai katanya,” Mustaqim mengabarkan kalau Ceprudin alias Cecep alias Encep yang rencananya mau ikut jadi “orang tua,” baru akan datang ke kampus siang sekalian kuliah.

Hujan semakin deras dan nampaknya susah diajak kompromi. Kalau menunggu terlalu lama di Salatiga, nanti bisa kesorean bahkan kemalaman sampai di Semarang. Makanya, saya putuskan untuk segera pulang saja. “Kita cari kamar kecil, salin terus pulang ke Semarang,” ajak saya ke Mustaqim. “Oke mas,” ucapnya sembari mengacungkan jempol. Entah apa maksudnya. Belum juga sampai ke kamar kecil, terdengar teriakan “hoiii.” Ternyata Ceprudin baru saja sampai ke kampus. Kami bertiga kemudian menuju ruangan yang tersedia kamar kecil setengah berlari.

Di dekat kamar kecil, saya segera membuka toga dan mengambil pakaian yang digunakan sebelumnya. “Eh Mas Ted, jangan salin dulu. Kita foto bareng,” pinta Cecep. “Ayo qim, saya fotoin dulu sama Mas Tedi,” kata pemuda yang sudah tiga tahun mereguk madu asmara itu. Setelah difoto, saya segera masuk kamar kecil, ganti pakaian. Kembali pakai celana pendek, kaos dan jaket. Sepatu juga dilepas karena takut kehujanan. “Enggak pakai sandal mas Ted,” tanya Mustaqim. “Sendalnya digantung di motor, lupa gak dibawa tadi,” ucap saya. “Lha terus ini gimana nanti ke parkirannya?” tanya Ceprudin. “Ya, nyeker lah,” jawab saya. “Wah harus difoto dulu dong,” sergah Ceprudin.

Di tengah sergapan hujan, akhirnya saya dan Si Raja Cinta kembali ke Semarang. Mengakhiri 8 tahun perjalanan akademis di kampus yang asri, rindang dan sejuk itu.

Vivat Academia...
Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2014. TEDI KHOLILUDIN - All Rights Reserved
Facebook:Tedi Kholiludin