Terima Kasih, Indocement Cirebon…

Hingar bingar unifikasi kompetisi sepakbola Liga Indonesia pada tahun 1994, tetap tak merubah posisi saya di belantika persepakbolaan nasional, tetap sebagai penonton layar kaca. Sejak mengenal barang bernama Persib Bandung yang menjadi juara setelah mengalahkan Persebaya di final divisi utama pada tahun 1990, sepakbola nasional selalu menjadi menu yang ditunggu setiap hari minggu. Karena hari itu biasanya ada ulasan dan cuplikan hasil kompetisi perserikatan. Juga Galatama.

Lazimnya penggila bola, melihat tim pujaan langsung di stadion adalah mimpi. Saying, yang tak pernah menjadi kenyataan. Karena kandang Persib itu di Bandung, sementara jarak Kuningan-Bandung itu sekitar 4 jam, maka menonton langsung di stadion terlalu beresiko bagi saya yang saat itu masih usia Sekolah Dasar.
Penyatuan liga antara Galatama dan Perserikatan semakin menambah kencang genderang kompetisi sepakbola. Persaingan ketat, publikasi media yang meriah, semakin menambah riuh. Masyarakat sepakbola Indonesia betul-betul “berhariraya.”

Hingga tahun 1998 ketika liga berhenti karena gelombang politik, saya tidak terlalu bernafsu untuk menonton langsung pertandingan di stadion. Selain karena memang jarak yang jauh. Keinginan untuk menikmati pertandingan di pinggir lapangan baru muncul ketika lulus SMA. Tapi, saat menghitung ulang keinginan itu, rasa-rasanya kok mustahil. Perjalanan ke Bandung dari Kuningan, tentu butuh biaya.

***

Mataram Putra, klub yang bermarkas di Jogjakarta itu hanya nangkring di posisi ke 11 dari 17 peserta Liga Indonesia pertama. Klub yang awalnya bernama Perkesa Mataram kemudian menyematkan nama Indocement pada tahun 1995/1996. Jadilah kini Mataram Indocement. Musim kedua adalah puncak prestasi klub yang berdiri tahun 1973 ini. Mereka lolos 12 besar, meski gagal menembus semifinal. Naas, di musim berikutnya, tim besutan Sinyo Aliandoe malah terdegradasi ke Divisi I.

Setelah 1997/1998, liga kembali digelar. Mataram Indocement berpindah home base ke Cirebon dan berubah menjadi Indocement Cirebon. Stadion Bima di Sunyaragi menjadi tempat klub dengan seragam kebesaran kuning itu menggelar laga kandang. Hanya semusim di Divisi I, mereka kembali naik kasta dan siap bertarung di liga 1999/2000.

Dipimpin oleh gelandang senior Inyong Lolombulan, Indocement Cirebon mulai menjadi magnet masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Maklum, menonton langsung pertandingan liga di stadion menjadi dahaga yang tak jua terbayar. Sehingga, ketika pertindangan liga tersaji di dekat rumah, maka inilah kesempatan untuk menyaksikannya. Meskipun yang ditonton bukanlah Persib, tetapi menyaksikan Indocement yang berlaga di kasta tertinggi sepakbola Indonesia adalah sesuatu yang tidak boleh dilewatkan.

***

3 Februari 2000…

Hujan deras mengguyur kampung saya di Bojong, Cilimus-Kuningan. Hari itu, Indocement bertanding. Meski jarak dari rumah ke Stadion Bima di Cirebon hanya 25-30 kilometer saja, tapi saya tak mungkin terus datang menonton pertandingan. Saya bahkan melewatkan menonton Persib langsung di Cirebon ketika dijamu Indocement pada 11 November 1999 karena hujan besar. Pertandingan itu sendiri berkesudahan dengan skor kacamata.

Meski menuju Cirebon tak sejauh ke Bandung, tapi hal tersebut bukan sesuatu yang mudah. Pertama, tak ada kendaraan sendiri dan kedua, tidak cukup punya uang untuk naik transportasi umum. Sehingga saya lebih sering memilih membantu mamah membuat kue atau bekerja membuat kopi.

Tapi hari itu, rejeki datang menghampiri. Seorang tetangga yang kebetulan memiliki kendaraan, mengajak saya menonton Indocement di Stadion Bima. Saking girangnya, saya tidak terlalu mempedulikan siapa lawan Indocement pada pertandingan kandang keenam mereka. Yang penting berangkat dan menjalani debut sebagai penonton langsung di stadion pada laga resmi.

Di seputaran stadion, hujan ternyata sama derasnya. Meski begitu, pertandingan sepertinya tetap dilaksanakan. Rupanya drainase Stadion Bima lumayan bagus. Tidak ada genangan yang bisa menghambat laju bola disana. Sehingga wasit memutuskan untuk tetap menggelar pertandingan. Mungkin karena hujan deras itu juga, tak banyak penonton yang menyaksikan laga tersebut. Walhasil, para petugas keamanan pun lebih melunak. Hampir semua penonton yang datang disuruh masuk tanpa diminta bayar tiket. Saya pun turut menikmatinya, masuk tanpa membayar tiket.

Barulah saat berada di pinggir lapangan saya tahu kalau lawan yang dihadapi oleh Indocement Cirebon adalah PSP Padang. Kala itu tim sekota Semen Padang itu diperkuat Satria Ferry, Masperi Kasim dan Kiper Samosir Tamani. PSP mencetak gol dari tendangan bebas. Pertandingan ini berakhir dengan kedudukan 1-1. Tak banyak yang bisa saya ingat dari pertandingan itu, kecuali hasil akhirnya.

Inyong Lolombulan, el Capitano Indocement adalah nama yang cukup menyita perhatian sore itu. Menjadi jenderal di lini tengah, laki-laki asli Sulawesi Utara itu cukup pintar menjaga ritme permainan. Umpan-umpannya terukur. Aliyudin, pemain bertubuh mungil yang diplot menjadi target man juga cukup gesit mengelabui bek lawan. Di bawah mistar, Didik Tri Yulianto dipercaya untuk mengawal gawang.
Karena yang bertarung di lapangan hijau sore itu adalah dua tim semenjana, tak banyak pemain kelas wahid yang saya ingat, kecuali pemain yang benar-benar menonjol. Ya, Inyong Lolombulan itu. oh ya dan satu lagi pemain asing asal Brasil, Jaldecir Jesus “Deca” Dos Santos.

Tiga hari kemudian (6 Februari 2000), tetangga yang baik hati itu kembali mengajak saya menonton. Kali ini, lawan yang dihadapi oleh tim besutan Sinyo Aliandoe (yang kemudian diganti Tumpak Sihite) adalah PSMS, klub yang punya sejarah panjang. Dipimpin oleh Kapten Slamet Riyadi serta Sahari Gultom di bawah mistar, Striker Ayam Kinantan Colly Misrun dan para pemain asingnya seperti Nelson Leon Sanchez, Jaime Rojas sangat merepotkan. Meski begitu, pemain-pemain Indoncement yang kala itu didukung penuh oleh penonton yang memadati Stadion Bima tak gentar. Hingga akhirnya, Indocement meraih kemenangan 2-1. Slamet Riyadi terlihat beberapa kali bersitegang dengan wasit yang dianggap merugikan PSMS. Saya lupa siapa yang mencetak gol dari PSMS. Tapi satu gol Indocement disarangkan Abdul Aziz.

Dua hari berselang (9 Februari 2000) Indocement menjamu tim asal Serambi Mekkah, Persiraja Banda Aceh. Dalam pertandingan yang tak terlalu menarik itu, tuan rumah ditundukkan Persiraja melalui gol Azhari. Persiraja sendiri kala itu diarsiteki oleh Parlin Siagian dan bermaterikan pemain-pemain berbakat. Selain Azhari, ada striker Irwansyah, Ismed Sofyan, Tarmizi Rasyid, Oum Luc Junior, Dahlan Jalil dan lain-lain.

***

Alhamdulillah, setelah 6 tahun gelaran Ligina bergulir, akhirnya saya menikmati pertandingan resmi di pinggir lapangan. Walaupun tidak menonton Persib, tapi saya tak menyesal karena masih bisa menyaksikan tiga laga home Indocement Cirebon. Ya, hanya tiga laga saja. Karena setelah itu saya sibuk menyelamatkan material-material rumah yang terkena gusur untuk perluasan pasar. Masih bersyukur bisa menonton aksi Inyong, Deca, Aliyudin, Freddy Herlambang, dan pemain-pemain lain dari tim yang pada musim itu kembali terdegradasi ke Divisi I. Sekarang, entah bagaimana kabarnya.

Terima kasih Indocement Cirebon…


Keterangan Foto:
Jersey Mataram Indocement (sebelum jadi Indocement Cirebon) di Liga Indonesia (Liga Kansas) tahun 1996/1997 [Sumber Foto: kaskus]
Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2014. TEDI KHOLILUDIN - All Rights Reserved
Facebook:Tedi Kholiludin