Masyarakat Sunda Kristen di Kuningan, Jawa Barat: Menegosiasikan Identitas Kultural

Sebagai komunitas kecil ditambah dengan latar kemunculan yang agak spesifik, masyarakat Sunda Kristen di Kabupaten Kuningan Jawa Barat, tak lepas dari upaya untuk melakukan berbagai negosiasi. Salah satu yang hendak dipaparkan disini adalah negosiasi antara identitas agama dengan kultur atau budaya. Bagaimana masyarakat Sunda Kristen di Kuningan menegosiasikan identitas agama (Kristen) dan kultur atau budaya (Sunda). Apa makna menjadi masyarakat Sunda yang beragama Kristen. Proses negosiasi antara agama dengan identitas kultural inilah yang hendak menjadi fokus bahasan dalam penelitian yang bisa dikategorikan sebagai studi tentang agama dan masyarakat ini.

Seperti yang telah digambarkan oleh Henrik Kraemer, bagi masyarakat Sunda, Islam merupakan mahkota. Meski tidak semua orang Sunda adalah muslim, tetapi Islam sudah sangat identik dengan Sunda. Menjadi seorang Kristen, bagi orang Sunda tentu sudah barang pasti menyisakan kewajiban untuk melakukan negosiasi didalamnya. Negosiasi terhadap dua identitas kultural, agama dan etnis.

Tulisan ini akan menjadikan masyarakat Sunda Kristen di Kuningan yang berjemaat di Gereja Kristen Pasundan (GKP) sebagai fokus penelitian. Data tahun 2005 menunjukkan bahwa jumlah anggota jemaat GKP Cigugur berjumlah 82 dengan tingkat kehadiran saat ibadah tidak lebih dari separuhnya. Mereka inilah yang akan menjadi objek penelitian, lengkap dengan interaksi sosial yang dilakukannya. Selain kepada jemaat, penggalian informasi juga akan dilakukan kepada dua pendeta yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan masyarakat Sunda Kristen di GKP, yakni pendeta yang bertugas di GKP itu sendiri serta satu pendeta di Gereja Kristen Protestan Jawa Barat (GKP Jabar) yang seluruh jemaatnya adalah warga Sunda.

Data di Kementerian Agama Propinsi Jawa Barat menunjukan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Kuningan yang memeluk Kristen ada 6.928 dari jumlah keseluruhan 1.056.302 jiwa. Dari sekian jumlah yang kecil itu, ada masyarakat Sunda di dalamnya. Ada penduduk yang dilihat dari sisi etnis Sunda dan memeluk agama Kristen. Relasi etno-religi seperti ini bukanlah sesuatu yang istimewa. Menjadi menarik karena hubungan tersebut terbangun dari dua sisi yang “tidak identik,” meski secara sadar harus diakui bahwa yang “identik” itu juga terkonstruksi secara sosial. Dikatakan “tidak identik” karena masyarakat Sunda kerap diidentikkan dengan Islam. Sehingga ketika ada masyarakat Sunda yang taruhlah memiliki identitas kultural (baca: agama) lain, maka ini sesuatu yang menarik untuk dikaji.



Download Paper

Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2014. TEDI KHOLILUDIN - All Rights Reserved
Facebook:Tedi Kholiludin