Turut Berbahagia dan Memberi Kebahagiaan

Ada dua momen yang paling membahagiakan bagi saya. Pertama, ketika hadir dan turut berbahagia dalam kebahagiaan orang lain. Kedua, saat bisa memberi kebahagiaan atau membuat orang lain bahagia.

***

Sabtu (23/7) lalu, saya, Iman Fadhilah, Nur Khozin, mengantar laki-laki pemberani nan tangguh berjudul Ceprudin ke Pasuruan, Jawa Timur. Laki-laki ini mulai menebar teror kepada teman-temannya di eLSA, baik yang sudah punya pasangan apalagi kepada para jomblo. Ia tak lagi bermain-main dalam urusan kewanitaan. Alumus Program Pascasarjana Ilmu Hukum UKSW Salatiga itu meng”khitbah” pujaan hatinya. Inisialnya, PDK. Atau sebut saja Putri Dwi Kirana (bukan nama samaran).

Mereka berdua adalah adik-adik saya di banyak tempat; di Justisia, PMII dan eLSA. Singkatnya, jalinan itu membuat saya dan keduanya (termasuk keluarga kami tentunya dan teman-teman eLSA) menjadi seperti saudara kandung. Nyaris tak ada rahasia yang disimpan. Entah dalam persoalan personal atau komunal.
Bersama ayah, ibu dan kakaknya Ceprudin, kami menempuh perjalanan darat kurang lebih 8 jam untuk sampai di Pasuruan. Keluarga Cecep bahkan sampai 15 jam jika dihitung dari Brebes. Lelah? Sudah pasti. Butuh tenaga ekstra untuk tetap bertahan ketika kantuk mendera. Sebagai penumpang, saya hanya sempat melek 3 jam. Sisanya, tidur hingga sampai di rumah keluarga Putri, Minggu Subuh. Khozin dan Fauzi, dua penyetir handal, yang entah dengan cara apa bisa sangat kuat bertahan dibalik setir mobil. Berarti ini kali yang kedua saya ke rumahnya Putri setelah dulu ke tempat yang sama untuk takziyah.

Iman Fadhilah (pasti semuanya sudah kenal), menjadi wakil keluarga laki-laki untuk menjadi juru bicara dalam silaturahmi dua keluarga untuk kali pertama itu. Tutur katanya sudah layaknya orang tua betulan. “Ini saya punya bujangan, katanya kok punya tambatan hati disini. Disuruh sama tetangganya saja yang dekat gak mau. Disuruh cari yang dekat Semarang juga gak mau. Keukeuh mau sama orang sini katanya,” Iman membuka perbincangan.

Meski intinya adalah sesuatu yang sangat serius, tapi Iman mengemasnya dengan sangat santai. Tentu saja dia tak pernah santai untuk urusan cinta dan pengorbanan. Anda tentu masih ingat cerita Iman ketika memutuskan pacarnya dan memilih untuk “mencintai” organisasi?

Obrolan pun mengalir. Saya menjadi pendengar sembari sesekali ikut nimbrung. Rasa pegal dan lelah karena perjalanan jauh terganti oleh suasana baru yang penuh keakraban dan kekeluargaan. Dua budaya bersua dalam satu warna. Rona bahagia terpancar dari semua wajah yang hadir. Balutannya memang tak sama; ada tawa, senyum bahkan air mata yang menetas.

Acara inti pun selesai. Tuan rumah mempersilahkan tamu untuk makan siang. Saya melangkahkan kaki terlebih dahulu menuju ruang makan. Belum sampai piring saya pegang, ibunya Putri yang sedang duduk, meraih tangan kanan saya. Langkahpun saya hentikan. Dalam haru serta tetesan air mata yang tak kuasa ditahan, beliau setengah memeluk saya. Beliau seperti ingin mengatakan banyak hal. Saya tak bisa menolak untuk tidak turut larut dalam keharuan itu. Sama halnya seperti beliau, saya pun ingin melontarkan deretan huruf. Namun, tak kuasa saya muntahkan, terbendung oleh tanggul bahagia. “Ibu sehat-sehat ya. Nanti tinggal di Semarang saja. Biar kita bisa lebih sering bertemu,” hanya kalimat itu yang akhirnya terlontar. Meski ada ragam ekspresi, tapi saya yakin semua yang hadir (ataupun yang mendengar berita itu) ikut dan larut dalam kebahagiaan. Nah, inilah momen yang membahagiakan bagi saya, seperti disinggung di pucuk tulisan ini.

Hal lain yang juga membahagiakan adalah ketika kita bisa membuat yang lain bahagia. Kalau ini inspirasinya dari John Titaley saat ia menyampaikan pidato wisuda 2015 lalu. Cerita tentang hal tersebut bisa dibaca di note “Serba-serbi Wisuda I: Nasihat JT.”

Saat pulang dari Pasuruan menuju Semarang, mobil yang saya tumpangi tak pernah sepi cerita. Aktornya siapa lagi kalau bukan Pak Iman. Anda tak akan kehabisan cerita jika berjalan bersama dia. Baik fiksi maupun non-fiksi. Cerita masa lalu (juga masa kini), membahagiakan atau menyakitkan, tanpa dipancing akan berhamburan dengan sendirinya.

“Mas Khozin itu nyetirnya banter (kencang) ya? Saya juga bisa mas. Cuma mobil saya itu kan ccnya hanya 900. Jadi kalau dibawa kencang seperti melayang. Kualitas menyetir saya tidak pas dengan mobil yang saya pakai,” katanya memecah hening. “Spek mobilnya tidak sesuai ya mas?” Khozin menimpali sembari terkekeh.

Tentang Iman Fadhilah, saya sedang menyusun sebuah proyek penelitian. Judulnya kira-kira begini, “Kelemahan sebagai Kekuatan: Studi tentang Pemikiran dan Tindakan Iman Fadhilah.”
Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2014. TEDI KHOLILUDIN - All Rights Reserved
Facebook:Tedi Kholiludin