Aktivitas Terkini Teman-teman Kuliah

Bulan September 2016, Program Pascasarjana Magister Sosiologi Agama di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga berusia 25 tahun. Adalah sebuah kehormatan menjadi bagian dari keluarga besar UKSW, setelah mengaji kurang lebih enam tahun lamanya. Tak hanya ilmu yang saya dapat, tapi juga teman-teman dari seantero Indonesia. Kesempatan yang sangat mahal untuk bisa bersua dengan teman-teman dari pelbagai suku; Batak, Ambon, Halmahera, Papua dan Jawa. Mau tak mau, saya pun akhirnya mengidentifikasi diri ”kesukuan” saya sebagai orang Sunda. 

Bersama 19 orang lainnya, kami bersama-sama masuk Program Pascasarjana pada tahun 2007. Sebagian besar diantaranya adalah para pendeta yang cuti melayani untuk meneruskan studi. Sisanya adalah para calon pendeta. Ingatan tentang ulang tahun perak Sosiologi Agama, menggerakkan saya untuk mengupdate aktivitas teman-teman se-angkatan. 

Peran tekhnologi informasi sangat membantu dalam menjaga komunikasi. Beberapa diantaranya memang sempat bertemu fisik, tapi sisanya kami lebih banyak terhubung melalui komunikasi secara virtual. Saya mencoba mengupdate aktivitas teman-teman se-angkatan berdasarkan cluster tempat mereka bekerja atau melayani. 

Pertama, pengajar di kampus. Beberapa teman menjadi pengajar Teologi atau Teologi Agama-agama di kampus. Pdt. Riris Johanna Siagian misalnya. Saat ini, ia tercatat sebagai dosen di STT HKBP Pematang Siantar, Sumatera Utara. Saya pernah bertemu sekali secara tidak sengaja di kampus sekira tahun 2009 atau 2010. Di Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Ambon, ada tiga nama yang bersandar disana. Masing-masing adalah Claudia PattiruhuLatukolan, Julita Tuamelly dan Maurits Pollatu. Sejak lulus pada tahun 2008, saya sempat beberapa kali berjumpa dengan ketiganya. Namun, setelah mereka lulus, kami tak pernah berjumpa lagi. 

Nama lain yang mengabdi di kampus adalah Lilyantie T. Turang. Lili mengajar di STAKN Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Kini, ia sedang menempuh studi doktoral di UKSW untuk program yang sama. Pernah dua atau tiga kali berjumpa dengan Lili di kampus sebelum saya merampungkan studi pada 2015 kemarin. 

Pdt. Bastian Bas Nanlohy juga ada di kampus. Beliau berkarya di STT Izaak Sammuel Kijne, Abepura Papua. Pada Mei 2014, saya berkesempatan untuk mengunjungi Papua. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk berjumpa dengan Pak Bas dan anak-anaknya. Pertemuan yang mengharukan. Anak-anak Bas sudah tumbuh besar, meski hanya Jojo yang masih mengingat saya. Pada kesempatan itu pula saya berjumpa dengan teman kuliah lainnya, Eddyson Sekenyap yang juga turut menjadi staf pengajar. 

Kedua, teman-teman yang melayani di jemaat. Mungkin ini yang paling banyak. Pdt. Melkisedek Puimera atau Pak Eka, kini menjadi salah satu Ketua Sinode Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB). Tahun 2008 atau 2009, saat masih melayani di GPIB Surabaya, saya sempat mampir ke “rumah dinas”nya. Keramahan Pak Eka dan Bu Geertje tak berubah. Di momen-momen spesial, dia kerap berkirim pesan, “Tedi, kirim nomor rekening ya.” Rejeki bapak soleh. Anaknya Pak Eka, Karen Erina Puimera, kini studi di UKSW juga. “Teologi juga pak?” saya sempat bertanya via pesan pendek ke Pak Eka. “Iya. Biar kayak bapaknya dan Om Tedi,” canda Pak Eka. 

Selain Pak Eka, Pdt. Pdt. Juniati Saragih atau Bu Juni kabarnya melayani di sebuah Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Jakarta. Pdt. Elisa Johnson Saragih, kabar terakhir ada di Makassar, melayani di Gereja Metodis Indonesia (GMI). Dengan Bu Juni dan Pak Ellysa saya sudah tidak sempat bertemu selepas mereka lulus sekitar tahun 2009-2010. 

Dua orang yang sempat berjumpa setelah lulus adalah Pdt. Susila dan Pdt. Hotman T. Marbun. Sekitar tahun 2009 saya diundang oleh Pdt. Susila untuk mengisi konven pendeta Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ). Acara yang dilaksanakan di daerah Bandungan diikuti oleh 200an pendeta GITJ. Itulah pertemuan terakhir saya dengan Pak Susila. Pertemuan dengan Pak Hotman juga untuk acara konven pendeta-pendeta HKBP Semarang Juni 2016 lalu. 

Dari Maluku, dua ibu muda menjadi pendeta setelah lulus. Masing-masing Pdt. Olivia Talahatu Tuhumury dan Pdt. Echenie Ayal. Mereka berdua melayani di Gereja Protestan Maluku (GPM). Nie, panggilan Echenie, dalam sebuah percakapan via telpon tahun lalu berkisah kalau dirinya sekarang melayani GPM di Kepulauan Aru. Dari utara Maluku, Pdt. Jacobus Tjanu alias Bob Tjanu, juga turut berkhidmat untuk jemaat di Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH). Selain menjadi pendeta Bob juga mengajar di Sekolah Tinggi Pertanian dan Kewirausahaan (STPK) Banau Halmahera Barat. 

Dua teman lain dari Maluku menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Abdul Rahman atau Pak Man bekerja di Kantor Urusan Agama (KUA). Pasca kelulusannya, saya tak pernah lagi sempat berjumpa dengan laki-laki yang kerap bercerita tentang keajaiban Negeri Tulehu sebagai kontributor sepakbola nasional ini. Sahabat lain yang menjadi abdi masyarakat adalah Ali Litiloly. Pak Ali bekerja di Balai Diklat Keagamaan Ambon dan baru saja dikarunia putra yang keempat. Dengan Pak Man yang NU dan Pak Ali yang Muhamadiyyah, saya hanya berkirim kabar via media sosial sembari menggali ingatan mereka tentang cerita-cerita menggelikan yang tentu saja akan sangat rawan kalau dituliskan di sini. 

Satu orang pendeta yang belum sempat berkirim kabar adalah Pdt. Masada Sinukaban, pelayan di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP). Akan segera saya kontak beliau. Diantara dua puluh orang penghuni angkatan 2007, satu orang telah mendahului kami, Pdt. Betty Sarewo. Ketika memiliki kesempatan ke Papua, makam Pdt. Betty adalah destinasi utama saya. 

Itulah kabar terkini dari teman-teman se-angkatan. Alhamdulillah, mereka dalam keadaan sehat wal afiat, walau tentu saja kabar duka kerap menghampiri keluarga-keluarga mereka. Catatan ini sekaligus sebagai salam pengantar saya untuk teman-teman sekalian. Titip salam untuk keluarga, dari saya dan keluarga untuk teman-temann sekalian. Semoga satu waktu bisa bersua kembali.
Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2014. TEDI KHOLILUDIN - All Rights Reserved
Facebook:Tedi Kholiludin