Masyarakat Sunda Kristen di Kuningan Pasca 1964

(Tulisan ini merupakan versi singkat dari paper yang berjudul Masyarakat Sunda Kristen di Kuningan Jawa Barat: Menegosiasikan Identitas Kultural yang dimuat di buku Ulang Tahun Program Pascasarjana Sosiologi Agama, UKSW Salatiga) 

Data di Kementerian Agama Propinsi Jawa Barat menunjukan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Kuningan yang memeluk Kristen ada 6.928 dari jumlah keseluruhan 1.056.302 jiwa. Dari sekian jumlah yang kecil itu, ada masyarakat Sunda di dalamnya. Ada penduduk yang dilihat dari sisi etnis Sunda dan memeluk agama Kristen. Relasi etno-religi seperti ini bukanlah sesuatu yang istimewa. Menjadi menarik karena hubungan tersebut terbangun dari dua sisi yang “tidak identik,” meski secara sadar harus diakui bahwa yang “identik” itu juga terkonstruksi secara sosial. Dikatakan “tidak identik” karena masyarakat Sunda kerap diidentikkan dengan Islam. Sehingga ketika ada masyarakat Sunda yang taruhlah memiliki identitas kultural (baca: agama) lain, maka ini sesuatu yang menarik untuk dikaji. 

Sebagai komunitas kecil ditambah dengan latar kemunculan yang agak spesifik, masyarakat Sunda Kristen di Kabupaten Kuningan Jawa Barat, tak lepas dari upaya untuk melakukan berbagai negosiasi. Seperti yang telah digambarkan oleh Henrik Kramer, bagi masyarakat Sunda, Islam merupakan mahkota. Meski tidak semua orang Sunda adalah muslim, tetapi Islam sudah sangat identik dengan Sunda. Menjadi seorang Kristen, bagi orang Sunda tentu sudah barang pasti menyisakan kewajiban untuk melakukan negosiasi didalamnya. Negosiasi terhadap dua identitas kultural, agama dan etnis. 

Pertumbuhan masyarakat Sunda Kristen (juga Katolik) di Kuningan di tahun 1960-an sangat berkait erat dengan tekanan yang diterima oleh penganut Agama Djawa Sunda (ADS) di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan. Pangeran Tedjabuana sebagai penerus ajaran pasca meninggalnya Pangeran Sadewa Alibasa (Pangeran Madrais), membubarkan ADS pada tahun 21 September 1964. (W. Straathof, “Agama Djawa Sunda, Ajaran dan Cara Berpikirnya,” dalam Basis, tahun 1971, April XX-7, Juni XX-9, Juli XX-10 dan Agustus XX-11. Lihat juga dalam Muhammad Hisyam, “Agama Djawa Sunda” dalam Tambunan, et.al., Religi Lokal Dan Pandangan Hidup : Kajian Tentang Masyarakat Penganut Religi Tolotang Dan Patuntung, Sipelebegu (Permalim), Saminisme Dan Agama Jawa Sunda, [Jakarta: LIPI, 2004, 145]). Ia sendiri kemudian menganut Katolik. Banyak yang pada akhirnya mengikuti Tedjabuana menjadi Katolik dan sebagian kecil diantaranya memilih Kristen dan Islam. 

Salah satu yang menjadikan mereka tersudut adalah soal pelarangan pengesahan perkawinan pasangan ADS. Pelarangan ini dilakukan pada tahun 1964 oleh pemerintah melalui Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) dan Kejaksaan Negeri Kuningan. Semua penganut ADS dipanggil. Pangeran Tedjabuana sendiri sedang dalam keadaan sakit ketika itu. Putranya, Pangeran Djatikusumah ditahan selama tiga bulan di Kejaksaan. 

Tak hanya di Kuningan, tekanan juga diterima penganut ADS yang berada di luar Kuningan seperti Tasikmalaya. Kejaksaan Negeri Kuningan kemudian membuat surat kepada Kejaksaan Negeri Tasikmalaya yang dituangkan dalam surat No. 1941/K.K./VIII/64. Surat yang ditandatangani oleh F.M. Nasution pada 10 Agustus 1964 itu berisi tentang permintaan agar Kejaksaan Negeri Tasikmalaya mengambil langkah sama dengan Kejaksaan Negeri Kuningan, yakni melarang dan membubarkan ADS. Akhirnya Badan Koordinasi PAKEM Tasikmalaya mengeluarkan surat No. P004/HSD/64, perihal “Pembubaran perkawinan apa jang dinamakan Agama ‘Djawa Sunda.’” Surat itu sendiri ditulis oleh sekretaris, H.S.D. Jamin (Jaksa) pada tanggal 15 September 1964. 

Tekanan yang datang bertubi-tubi kepada penganut ADS, menyebabkan Pangeran Tedjabuana, yang saat itu tinggal di Cirebon, berpikir untuk membubarkan ADS dan masuk ke salah satu “agama resmi,” Katolik. Tanggal 21 September 1964, Tedjabuana mendapatkan pemahaman atas makna “Camara Bodas,” seperti yang pernah disampaikan oleh Kya Madrais. “Camara Bodas” merupakan frasa yang ada dari sebuah kalimat ungkapan Madrais, “isuk jaganing geto anjeun baris nyalindung handapeun Camara Bodas anu bakal ngabeberes alam dunya,” yang artinya esok di kemudian hari engkau akan berlindung di bawah Cemara Putih yang akan menata alam dunia. Camara Bodas ini yang kemudian ditafsirkan sebagai Kristus. Tanggal 23 September 1964, Pangeran Tedjabuana mengetik surat pernyataan pembubaran ADS dengan tanggal surat sesuai dengan “wahyu” yang ia dapatkan untuk berpindah menjadi Katolik. Pangeran Tedjabuana memberikan kebebasan kepada penganut ADS untuk memilih agama yang sesuai dengan keyakinannya masing-masing. 

Keputusan Pangeran Tedjabuana untuk memilih Katolik sempat memunculkan banyak tanya di kalangan ADS sendiri. Tetapi mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit. Yang pada akhirnya, kompromi harus diambil. Ribuan warga ADS, kemudian menyatakan diri masuk Katolik mengikuti Pangeran Tedjabuana. Karena di Cigugur-Kuningan tidak ada Gereja Katolik, maka mereka kemudian berangkat ke Cirebon untuk mendaftarkan diri ke Gereja Katolik St. Yosef, Cirebon. Setidaknya, ada 7000-an eks ADS yang ada di Kuningan, mendaftarkan diri untuk menjadi Katolik. Dan tidak hanya berasal dari Kuningan, tetapi juga dari Majalengka, Ciamis dan Tasikmalaya. Tentang “Peristiwa Cigugur” ini, Robert Lindward Dixon lebih melihat konversi agama tersebut sebagai sebuah akibat politik, bukan karena keberhasilan penginjilan. Kata Dixon, “the Cigugur movement into the R.C. Church was political rather than the result of evangelism.” 

Dibandingkan dengan Katolik, pemeluk eks-ADS yang menjadi Kristen sangatlah sedikit, tidak lebih dari 80 orang. Sebagian besar dari yang sedikit itu bergabung dengan Gereja Kristen Pasundan atau GKP Cigugur. Dengan begitu, komunitas Sunda Kristen, khususnya yang ada di GKP (dan beberapa di GKP Jabar) merupakan mereka yang dulunya anggota ADS. Sumber tentang keluarga ADS yang masuk Kristen memang tidak tercatat secara tertulis, baik di GKP maupun di GKP Jabar. Kisah yang sering dituturkan adalah cerita mengenai tiga keluarga yang diidentifikasi sebagai penganut agama Kristen dari pengikut ADS adalah Maskum (dan isteri), Kiming (dan isteri) serta Sukana. Tiga keluarga tersebut bertemu dengan Stefanus, seorang pelaut asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kemudian sama-sama mencari gereja hingga akhirnya beribadah di GKP Cirebon yang ketika itu dipimpin oleh Pendeta Kesa Yunus. 

Versi lain mengatakan bahwa jemaat awal GKP itu bukan hanya tiga keluarga, tetapi ada tujuh orang. Saat ini, tinggal Sukana yang bergereja di GKP sejak tahun 1965. Sisanya ada yang meninggal dan sebagian sudah berpindah gereja. Konversi eks ADS ke Kristen itu sendiri memiliki kisah yang berbeda. Dalam salah satu sumber dikatakan Kiming dan Maskum yang bergereja di GKP Cirebon rupanya tidak diberi tahu oleh teman-temannya tentang Gereja Katolik. Mereka hanya dikabari jika umat ADS mendaftar di gereja Cirebon. Sehingga kemudian keduanya bergabung dengan GKP dan mendirikan gereja di Cigugur, Kuningan. Sumber lain mengatakan hal yang kurang lebih sama, yakni tentang peristiwa “salah kamar” ini, yang disebabkan oleh dekatnya jarak Gereja Katolik dengan GKP di Cirebon. Jika Gereja Katolik Santo Yusuf beralamat di Jalan Yos Sudarso nomor 20, maka GKP ada di Jalan Yos Sudarso nomor 10. 

Berbeda dengan dua sumber di atas, Sukana penganut Kristen setelah dibubarkannya ADS, menjelaskan ihwal konversinya ke Kristen. Sukana tidak mengalami kejadian “salah kamar” seperti dituturkan salah satu sumber. Baginya, menjadi Kristen adalah pilihan sadarnya. Setelah sempat satu minggu bergereja di Gereja Katolik, Sukana kemudian merasa tidak sreg dengan pilihannya itu dan kemudian mendapatkan kenyamanan berteologi setelah bergereja di GKP. 

Sukana, Kiming, Stefanus dan Maskum kemudian mendapatkan pelayanan dari GKP Cirebon. Setelah sempat mengikuti kebaktian di GKP Cirebon, Sukana dan kawan-kawan kemudian meminta pendeta GKP Cirebon untuk datang sendiri ke Cigugur memberikan pelayanan. Setelah disetujui oleh pengurus GKP Cirebon, dimulailah kebaktian di Cigugur pada tahun 1967. Kebaktian awal dilakukan di rumah Maskum, Cigugur. Pelayanannya meliputi Kebaktian Umum Minggu dan pelayanan Sakramen. Persekutuan kecil ini kemudian bertambah banyak di kemudian hari. Selain dari Cigugur, ada juga keluarga di Kuningan yang kemudian menggabungkan dalam persekutuan ini. Mereka yang berasal dari Cigugur antara lain Keluarga Juhro, Loka, Bencu, Mas’ud, Sukaer, Sarkenda dan Barhan. Sementara yang berasal dari Kuningan antara lain keluarga Pugar, Liong, Iskandar, Panjaitan, Liow dan Alex. Meski pelan, tapi pertumbuhan GKP berjalan terus. Tahun 1974 misalnya, ada penambahan anggota yang masuk dan bergabung. 11 keluarga Katolik mendaftarkan diri menjadi bagian dari anggota GKP Cigugur. 

Pengakuan sebagai Pos Kebaktian dibawah GKP Cirebon diakui keberadaannya pada tahun 1981. Selain Pos Kebaktian Cigugur pada tahun yang sama juga ada pengakuan terhadap Pos Kebaktian Cibunut. Tahun 1990-an, muncul konflik internal di tubuh GKP Cigugur ini. banyak diantara mereka yang secara pribadi keluar dan bergabung dengan GKP Jabar. GKP Jabar sendiri ada di Kancana Girang, Kecamatan Subang dan sekarang ada kurang lebih 20-30 KK. 

Ciri yang melekat pada umat Kristen di Kuningan adalah otonom. Secara historis, mereka adalah jemaat yang otonom, bukan dibuat oleh Belanda. Jadi tidak ada keharusan untuk taat kepada sinode atau struktur gereja. Mungkin baru pada tahun 2000an saja jemaat GKP mau menerima pendeta. Itu pun dengan catatan, pendeta yang bertugas melayani harus mau banyak berkompromi dengan jemaat. Sebagai kelompok yang relatif otonom, masyarakat Sunda Kristen memiliki kesempatan untuk membangun identitas diatas sejarah yang mereka ciptakan sendiri. Kelompok ini, dari sisi sejarah, mereka tidak memiliki ketersambungan secara langsung dengan zending. Mereka tidak berjumpa dan mendapatkan pengajaran langsung dari para zendeling. Khusus jemaat GKP, kehadirannya sebagai bagian dari sejarah Kekristenan di Kuningan juga bukan berasal dari desain Belanda. Jemaat GKP di Cigugur tidak memiliki kaitan dengan jemaat yang dirintis oleh Anthing seperti Kampung Sawah atau Gunung Putri dan sekitarnya. 

Masyarakat Sunda Kristen Kuningan lahir dari sebuah episode sejarah yang spesifik. Pertumbuhannya berjalan pesat di sekitar tahun 1964. Dalam sejarah perkembangan agama-agama di Indonesia (khususnya di Jawa), memang ada satu masa dimana terjadi migrasi besar-besaran ke dalam Kristen dan Katolik, yakni pasca Gerakan Tiga Puluh September 1965. Namun, yang terjadi di Kuningan tidaklah masuk dalam dinamika tersebut. 

Pertumbuhan masyarakat Sunda Kristen di Kuningan sangat terkait dengan upaya pemerintah dalam membatasi pelayanan hak sipil kelompok ADS. Karena didesak untuk masuk pada salah satu dari enam agama “yang diakui” oleh negara, maka terjadilah banyak konversi. Mayoritas dari penganut ADS ini berkonversi menjadi Katolik dan sedikit diantaranya yang memilih Kristen dan Islam. Alasan Dixon bisa kita pahami dalam konteks ini. Situasi politiklah yang menyebabkan tumbuhnya masyarakat Kristen di Kuningan, bukan karena karya penginjilan. 

Meski kemudian menjadi Kristen, namun poros dan alam pikir mereka tetaplah ADS. Ketika ada dalam proses eksternalisasi, terlihat sekali bahwa teologi ADS sangat dominan mewarnai. Bahkan ketika sudah mencapai taraf internalisasi sekalipun, ajaran-ajaran ADS masih sangat dipegang kuat oleh masyarakat Sunda Kristen. Terbangunnya identitas ini mendapatkan tempat, sekali lagi, karena memang mereka tidak terbebani oleh sejarah zending yang berkarya di Tanah Pasundan. Mereka memiliki keleluasaan untuk membangun teologinya secara mandiri, karena lepas dari identifikasi Kristen yang Barat, Belanda dan kolonial. Daya tawar (keSundaanya) cukup tinggi. Inilah yang menjadi alasan, mengapa bagi jemaat GKP Cigugur-Kuningan, gereja mereka itu adalah “gereja suku” bukan “gereja wilayah.”

Keterangan Foto:

Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2014. TEDI KHOLILUDIN - All Rights Reserved
Facebook:Tedi Kholiludin